Close

 

SUKADANA, JNNews – Marji (50) seorang warga RT 06/07 Dusun Kemiling Desa Pugung Raharjo Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, menderita penyakit infeksi kulit Erisipelas yang diakibatkan bakteri Streptokokus, sekujur tubuhnya melepuh.

Marji kesehariannya bekerja sebagai buruh tani, mengalami penyakit aneh tersebut lebih dari dua bulan yang lalu, dirinya mengaku tidak tahu penyebab awal penyakit yang dialaminya, hingga saat ini dia masih tergolek lemah di ruang perawatan penyakit kulit Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUD AM) Bandar Lampung.

Keluarga Pasien Murad (60) dan Sarmaton (50) menceritakan kronologis awal penyakit yang dialami kakanya berupa bintik-bintik merah, lalu berubah putih terus menyerupai sisik ular di seluruh tubuh.

”Sempat di bawa keluarga ke rumah sakit Islam Kota Metro menggunakan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, namun pihak rumah sakit menolak dengan alasan beda nama antara di kartu tanda penduduk (KTP) dengan BPJS,” kata Sarmaton, Kamis (13/06/2019).

Selanjutnya keluarga, membawa Marji ke Dokter spesialis kulit, namun setelah di bawa pulang bukannya membaik tapi semakin parah.

“Terus kami bawa ke RS AKA Sribhawono, sepulang dari sana sempat agak membaik namun karena obat habis dan tidak ada dana untuk perawatan dan beli obat penyakitnya kambuh lagi,” imbunya.

Melihat kondisi ekonomi keluarga pasien yang tidak mampu, perangkat desa setempat membantu mengurus kartu BPJS milik pasien yang beda nama dan selanjutnya pasien di bawa ke RSUD AM Bandar Lampung .

Dari hasil diagnosa pasien divonis menderita Infeksi kulit (Erisipelas) yang diakibatkan bakteri Streptokokus, walaupun gatal dan bersisik penyakit Erisipelas tidak menular,

“Kata dokter tidak menular, sehingga keluarga yang lain tidak perlu di ungsikan, namun tetap harus menjaga kebersihan,” timpal Murad.

Hingga saat ini Marji masih berada di RSUD AM Bandar Lampung untuk perawatan oleh tim medis spesialis penyakit kulit, keluarga berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dapat membantu keluarga pasien, walaupun saat ini telah menggunakan BPJS namun kelurga juga membutuhkan biaya untuk menunggu dan biaya transportasi dari Lampung Timur ke Bandar Lampung.

Menurut warga setempat Santy (26), mengatakan, keluarga pasien memiliki keterbatasan ekonomi sehingga warga sekitar berinisiatif menggalang dana untuk membantu pengobatan.

“Selama ini warga yang membantu lewat sumbangan sukarela, ya, kalau bisa pemerintah turun tangan untuk membantu, karena pasien betul-betul keluarga dari tidak mampu,” ujar Santy. (suhaimi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close