Close

BANDAR LAMPUNG, JNNews– Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Lampung (Unila) Prof. Dr. Karomani, M.Si., sangat prihatin dengan kondisi generasi muda saat ini. Mereka telah terpapar paham radikalisme sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) atau sederajat.

“Saya ingin sampaikan bahwa Lampung sudah masuk zona merah. Kalau saya melihatnya memang begitu,” kata dia pada Monitoring Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung di Hotel Batiqa Bandar Lampung, Sabtu (22/6).

“Bahayanya, sebenarnya mahasiswa sudah terpapar sejak di SMA. Itu melalui kegiatan-kegiatan rohis dan sejenisnya,” sambung dia.

Karomani mencontohkan di Unila. Meskipun masjid ada di dalam kawasan kampus, tapi Unila tidak memiliki kewenangan.

“Seperti negara di dalam negara. Kami tidak punya kewenangan apapun. Tidak tahu siapa yang ceramah atau lainnya,” ucap dia.

Yang juga harus menjadi perhatian adalah kajian terakhir bahwa kampus minim keberadaan dosen dengan latar ilmu agama. Mirisnya, ada dosen dengan basic dokter nuklir mengajar keagamaan.

“(Kondisi) hari ini, baru 20 persen sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Harus ada perubahan,” jelas Karomeni.

Terkait radikalisme dan intoleransi, Karomeni sepakat harus disingkirkan. “Bagi kita ideologi sudah final. Tinggal kita membenahinya,” tegas dia.

Kasubdit Bintibsos Direktoratt Binmas Polda Lampung AKBP M. Yamil membenarkan radikalisme rentan masuk ke kampus dan dunia pendidikan.

“Bulan depan, Direktorat Binmas Polda Lampung gelar FGD (Focus Group Discussion) radikalisme khusus dengan pendidikan. Mudah-mudahan ini salah satu upaya pencegahannya,” sebut dia.

Kata M. Yamil, dalam hal pencegahan terorisme dan paham radikal telah bekerja dengan satuan kerja di Polda Lampung, mulai  Binmas, Intelejen dan bagian umum.

“Kami terus berbuat. Kalau sosialisasi, penggalangan, pendataan, mapping, melaksanakan tindakan pembinaan seperti itu sudah kita lakukan dan terus berlanjut, termasuk dievaluasi,” kata dia.

Menurut Yamil, radikal harus dilihat dari aspek keagamaan, bernegara dan bermasyarakat. Semua personil yang diturunkan harus memahami ketiga hal tersebut .Sehingga apa yang disampaikan kepada para pelaksana  ketika terjun ke lapangan dapat tepat sasaran.

Institusi militer sama dengan kepolisian. Selalu melaksanakan sinergi, pendekatan, dan penggalangan melalui Babinsa yang ada ke masyarakat. “Sudah ada  program kita tentang pencegahan tersebut,” ucap Kasi Teritorial Korem 043/Gatam Letkol Sahnun.

Untuk diketahui, Monitoring Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung berlangsung di Hotel Batiqa Bandar Lampung, Sabtu (22/6). Acara dibuka Kepala Badan Kesbangpol Pemprov Lampung Fitter Syahboedin.

Acara dihadiri perwakilan satuan kerja di lingkungan Pemprov Lampung, universitas dan perguruan tinggi, ormas Islam, Forum Kerukunan Umat Beragama (Lampung), dan Persatuan Wartawan Indonesi (PWI) Provinsi Lampung. (niz/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close